Bulan: Juli 2026

Sang Medusa Mode: Menelusuri Versace sebagai Simbol Kemewahan Italia yang Berani dan Glamor

Menelusuri Jejak Versace – Jika dunia fesyen minimalis mengajarkan kita untuk tampil tenang dan sederhana, maka Versace datang sambil mendobrak pintu, menyalakan lampu disko, dan berteriak: “Lihat aku!”

Di jagat raya high fashion, brand asal Milan, Italia ini adalah antitesis dari kata biasa saja. Versace adalah definisi dari kemewahan yang berani, seksi, teatrikal, dan tanpa kompromi. Ketika kamu melihat motif barok emas yang rumit, warna-warna neon yang kontras, potongan gaun yang menantang maut, dan logo kepala Medusa yang ikonis, kamu tahu persis bahwa itu adalah mahakarya Versace.

Bagaimana merek yang didirikan oleh seorang anak penjahit dari mendiang Gianni Versace ini bisa menjadi simbol tertinggi dari glamour ala Italia yang digilai para rockstar dan selebriti dunia? Yuk, kita bedah kisah seru dan koleksi legendarisnya!

1. Gianni Versace: Sang Revolusioner yang Mengawinkan Mode dan Budaya Pop

Versace didirikan pada tahun 1978 oleh Gianni Versace. Tumbuh besar dengan melihat ibunya menjahit, Gianni memiliki pemahaman yang mendalam tentang struktur pakaian. Namun, ia tidak ingin membuat pakaian yang membosankan untuk kaum borjuis kuno.

Gianni adalah seorang pencinta seni, sejarah Yunani kuno, dan musik rock. Ia mencampurkan semua elemen itu ke dalam desainnya. Gianni adalah desainer pertama yang menyadari kekuatan selebriti. Di era 1980-an dan 1990-an, ia tidak hanya menyewa model biasa; ia menciptakan fenomena “Supermodel” dengan menyatukan Naomi Campbell, Cindy Crawford, Linda Evangelista, dan Christy Turlington di satu panggung runway sambil menyanyikan lagu George Michael.

Gianni juga berteman dekat dengan musisi dunia seperti Elton John, Michael Jackson, dan Princess Diana. Ia mengubah peragaan busana yang tadinya kaku menjadi sebuah konser pop yang megah dan dinamis.

2. Kenapa Logonya Harus Medusa?

Setiap brand mewah memiliki logo, tetapi logo Versace memiliki daya magis tersendiri. Gianni memilih kepala Medusa—makhluk mitologi Yunani kuno—sebagai lambang kerajaannya.

Alasannya sangat filosofis sekaligus cerdas. Dalam mitologi, siapa pun yang menatap mata Medusa akan langsung jatuh cinta dan membeku menjadi batu, tidak bisa berpaling. Gianni ingin pakaian buatannya memberikan efek yang sama kepada dunia: siapa pun yang melihat orang mengenakan Versace akan langsung terpikat, terpesona, dan tidak bisa melepaskan pandangan mereka.

Eksplorasi 4 Mahakarya dan Karakteristik Ikonik Versace

Koleksi / Ciri Khas Tahun Lahir / Era Karakteristik Utama Dampak Budaya
Oroton (Gaun Logam) 1982 Kain rajutan dari rantai logam super ringan Mengubah logam kasar menjadi gaun malam yang sangat sensual dan cair.
The Safety Pin Dress 1994 Gaun hitam dengan belahan tinggi yang disatukan peniti emas raksasa Meroketkan nama Elizabeth Hurley dan menjadi gaun paling viral abad ke-20.
The Jungle Dress 2000 Gaun sutra hijau transparan bermotif bambu dengan potongan dada ekstrem Dipakai Jennifer Lopez di Grammy dan menginspirasi lahirnya fitur Google Image Search.
Motif Barok & Komik 1990-an Cetakan sutra penuh warna cerah, pola sulur emas, dan pop-art Menjadi seragam wajib para rapper, hip-hop murni, dan bangsawan eksentrik.

3. Donatella Versace: Kebangkitan Sang “Blonde Bombshell”

Dunia fesyen berduka ketika Gianni Versace dibunuh secara tragis di Miami pada tahun 1997. Banyak yang mengira imperium Versace akan runtuh. Namun, di sinilah sang adik, Donatella Versace, maju mengambil alih kemudi sebagai Direktur Kreatif.

Dengan rambut pirang platinumnya yang ikonis dan gayanya yang tangguh, Donatella tidak hanya mempertahankan warisan kakaknya, tetapi juga membawa Versace ke abad ke-21 dengan gaya yang lebih modern dan tajam.

Donatella adalah sosok di balik pembuatan Jungle Dress yang dipakai Jennifer Lopez pada Grammy Awards tahun 2000. Gaun hijau tersebut begitu menghebohkan internet sampai-sampai jutaan orang mencarinya di Google. Karena saat itu Google belum memiliki fitur pencarian gambar, tingginya pencarian untuk gaun Versace ini akhirnya menginspirasi tim teknologi Google untuk menciptakan Google Images! Sebuah bukti nyata bahwa Versace bisa mendikte arah teknologi dunia.

4. Barocco dan Gaya Jalanan (Streetwear) yang Mewah

Salah satu alasan mengapa Versace tetap digilai oleh generasi muda (Gen-Z dan Milenial) hari ini adalah kemampuan mereka melakukan regenerasi tanpa kehilangan identitas.

Motif Barocco (cetakan sulur emas yang rumit di atas kain sutra hitam atau putih) yang awalnya hanya ada di kemeja formal, kini telah merambah ke dunia streetwear. Kamu bisa melihat motif legendaris ini di celana tracksuit, jaket bomber, sepatu sneakers tebal, hingga aksesori rumahan seperti jubah mandi (bathrobe) mewah yang sering dipamerkan oleh para selebriti dan influencer di Instagram.

Di bawah kendali Donatella, Versace juga aktif berkolaborasi dengan kultur pop modern, termasuk menunjuk ikon global seperti Dua Lipa dan Hyunjin dari Stray Kids sebagai Global Ambassador, memastikan estetika Medusa tetap hidup di hati generasi muda saat ini.

“Versace bukan tentang menyembunyikan diri. Versace adalah tentang merayakan bentuk tubuh, merayakan keberanian, dan mengekspresikan kebebasan diri lewat pakaian yang luar biasa.” – Donatella Versace.

Kesimpulan: Warisan Kemewahan Italia yang Abadi

Versace telah membuktikan bahwa kemewahan sejati tidak selalu harus berbisik dalam kesunyian. Terkadang, kemewahan justru tampil paling indah saat ia berani tampil mencolok, bervolume, dan penuh warna.

Dari sebuah butik kecil di Milan hingga menjadi salah satu brand paling dikenal di seluruh dunia, Versace adalah simbol dari rasa percaya diri yang tinggi. Memakai Versace berarti kamu siap menjadi pusat perhatian. Selama manusia masih menyukai keindahan, drama, dan kemewahan yang teatrikal, selama itulah sihir Medusa dari Versace akan terus menguasai takhta tertinggi dunia mode internasional.

Sihir Kemewahan dari Paris: Mengenal Dior dan Deretan Koleksi Ikonik yang Mengubah Dunia Fesyen!

Mengenal Sejarah Dior – Pernahkah kamu melihat sebuah gaun yang begitu indah sampai-sampah membuat atmosfer di sekitarnya terasa magis? Atau mungkin kamu pernah mencium aroma parfum yang langsung membuatmu merasa seperti seorang bangsawan Prancis yang sedang berjalan di karpet merah?

Jika iya, kemungkinan besar kamu sedang berhadapan dengan sihir dari Dior.

Di jagat raya high fashion, nama Christian Dior bukan sekadar merek fungsional; ia adalah sebuah dinasti. Lahir di Paris pada masa pasca-Perang Dunia II, Rumah Mode Dior sukses membangkitkan kembali impian, romansa, dan kemewahan yang sempat hilang akibat perang. Hingga hari ini, logo empat huruf D-I-O-R menjadi simbol tertinggi dari keanggunan, feminitas, dan status sosial kelas atas.

Penasaran bagaimana kisah seru di balik rumah mode legendaris ini dan apa saja koleksi ikoniknya yang digilai para selebriti dunia? Yuk, kita bedah bareng-bareng!

1. Kelahiran “New Look” yang Mengguncang Dunia (1947)

Kisah Dior dimulai pada tanggal 12 Februari 1947. Prancis baru saja keluar dari bayang-bayang Perang Dunia II yang suram. Saat itu, kain sangat langka, dan pakaian wanita cenderung kaku, berpotongan kotak, dan mirip seragam militer yang hemat bahan.

Lalu, muncullah Christian Dior dengan koleksi debutnya yang radikal. Ia meluncurkan sebuah siluet baru: pundak yang lembut, bagian dada yang menonjol, pinggang yang super ramping (seperti jam pasir), dan rok mega-volume yang mengembang megah menggunakan meteran kain sutra yang sangat boros.

Ketika pemimpin redaksi majalah Harper’s Bazaar, Carmel Snow, melihat koleksi tersebut, ia langsung berteriak:

“It’s quite a revolution, dear Christian! Your dresses have such a new look!”

Istilah “New Look” pun lahir dan menjadi berita utama di seluruh dunia. Christian Dior tidak hanya menjual baju; ia mengembalikan hak wanita untuk tampil cantik, glamor, dan feminin setelah bertahun-tahun hidup dalam keprihatinan perang. Dunia fesyen pun berubah selamanya dalam semalam!

2. Deretan Koleksi Mahakarya Ikonik Dior

Selama lebih dari tujuh dekade, Dior terus melahirkan produk-produk yang tidak hanya tren musiman, melainkan menjadi timeless masterpiece (mahakarya abadi) yang terus dicari dari generasi ke generasi. Ini dia daftarnya:

A. Tas Lady Dior: Persembahan untuk Sang Putri

Jika ada satu tas di dunia ini yang memiliki status “kebangsawanan” sejati, itulah Lady Dior. Lahir pada tahun 1994 dengan nama awal Chouchou (artinya: si kesayangan), tas ini memiliki desain kotak yang kaku, motif jahitan cannage yang terinspirasi dari kursi rotan Napoleon III di butik pertama Dior, dan gantungan huruf D-I-O-R yang ikonis.

Sihir Lady Diana:

Pada tahun 1995, Ibu Negara Prancis menghadiahi tas ini kepada Putri Diana dari Inggris. Sang Putri langsung jatuh cinta setengah mati. Beliau membawa tas tersebut ke mana pun ia pergi—mulai dari kunjungan kenegaraan hingga karpet merah. Karena tas ini selalu melekat pada diri Lady Diana, dunia mulai menyebutnya sebagai “Tas Lady Dior”. Nama itu akhirnya dipatenkan, dan hingga hari ini, tas tersebut menjadi lambang keanggunan tertinggi wanita urban.

B. Bar Jacket: Arsitektur di Atas Tubuh

Bagian paling penting dari siluet New Look tahun 1947 adalah Bar Jacket. Jaket ini adalah sebuah karya arsitektur tekstil. Dengan potongan yang menekan pinggang ke dalam secara ekstrem dan bagian pinggul yang dilapisi bantalan khusus agar terlihat mengembang, jaket ini menciptakan ilusi tubuh jam pasir sempurna tanpa memandang bentuk asli tubuh si pemakai. Hingga detik ini, setiap desainer baru yang memimpin Dior pasti akan merilis versi modern dari Bar Jacket di panggung runway mereka.

C. Saddle Bag: Pemberontak Era Y2K

Lompat ke akhir tahun 1990-an, di bawah arahan desainer eksentrik John Galliano, Dior meluncurkan Saddle Bag. Tas berbentuk pelana kuda yang asimetris ini awalnya dianggap aneh, namun langsung meledak menjadi It-Bag terbesar di era milenium setelah dipakai oleh karakter Carrie Bradshaw di serial kultus Sex and the City. Setelah sempat disimpan di arsip lama, tas ini dirilis ulang beberapa tahun lalu dan langsung diserbu oleh generasi Gen-Z serta influencer global.

Anatomi Koleksi Ikonik Rumah Mode Dior

Koleksi Ikonik Tahun Rilis Ciri Khas Utama Daya Tarik Utama
The Bar Jacket 1947 Pinggang ramping, pinggul ber-volume Menciptakan siluet jam pasir sempurna
Lady Dior Bag 1994 Jahitan Cannage, pesona logam huruf DIOR Terkenal karena dipakai oleh Putri Diana
Saddle Bag 1999 Bentuk pelana kuda asimetris, logo ‘D’ besar Simbol fesyen Y2K yang kembali viral
Miss Dior (Parfum) 1947 Aroma mawar Grasse, botol dengan pita satin Parfum pertama Dior, lambang cinta bebas

3. Miss Dior & Sauvage: Menguasai Dunia Lewat Aroma

Christian Dior selalu percaya bahwa penampilan seseorang belum lengkap tanpa aroma yang tertinggal saat mereka berjalan melewati sebuah ruangan. “Parfum adalah sentuhan akhir dari sebuah gaun,” ujarnya.

Bersamaan dengan peluncuran New Look pada tahun 1947, ia merilis Miss Dior, parfum yang didedikasikan untuk adik perempuannya, Catherine Dior, seorang pejuang wanita masa perang. Dengan aroma mawar yang segar dan romantis, Miss Dior menjadi salah satu parfum terlaris di dunia sepanjang sejarah.

Di lini pria, Dior memiliki Sauvage. Dengan aroma yang maskulin, liar, namun tetap elegan, Sauvage (yang dipromosikan secara ikonik oleh aktor Johnny Depp) sukses memecahkan rekor sebagai salah satu parfum pria dengan penjualan tertinggi di dunia, membuktikan bahwa taring Dior di industri kosmetik dan wewangian tidak main-main.

4. Estetika Dior di Era Modern: Sisi Feminis Bersama Maria Grazia Chiuri

Fesyen harus bergerak mengikuti zaman, dan Dior sangat memahami hal itu. Pada tahun 2016, Dior mencetak sejarah dengan menunjuk Maria Grazia Chiuri sebagai Direktur Kreatif wanita pertama dalam sejarah rumah mode ini.

Chiuri membawa angin segar yang sangat seru. Tanpa menghilangkan keanggunan warisan Christian Dior, ia menyuntikkan pesan-pesan sosial yang kuat.

Salah satu koleksi modernnya yang paling viral adalah kaus putih polos bertuliskan: “We Should All Be Feminists” yang dipadukan dengan rok tulle super megah. Chiuri membuktikan bahwa wanita Dior era sekarang bukan lagi sekadar pajangan yang memakai gaun indah, melainkan wanita modern yang cerdas, berani bersuara, aktif, namun tetap tidak kehilangan sisi glamor mereka.

Di ranah pop kultur global saat ini, Dior semakin menancapkan kuku pengaruhnya dengan menggandeng ikon-ikon raksasa modern, seperti Jisoo dari BLACKPINK dan Jimin dari BTS sebagai Global Ambassador. Sinergi antara kemewahan Paris dan kekuatan budaya pop global ini membuat nama Dior tetap menjadi impian utama anak-anak muda di seluruh dunia.

“Ikutilah alam. Alam selalu menawarkan bentuk, warna, dan keindahan yang paling jujur. Tugas seorang desainer hanyalah membingkainya di atas tubuh manusia.” – Christian Dior.

Kesimpulan: Warisan Keindahan yang Tak Pernah Padam

Lebih dari sekadar bisnis pakaian mewah, Dior adalah sebuah perayaan terhadap keindahan hidup. Christian Dior berhasil membuktikan bahwa keanggunan sejati tidak akan pernah termakan oleh waktu.

Dari era gaun korset yang ketat di tahun 1947, tas tangan Putri Diana di tahun 90-an, hingga kaus feminis dan tren K-Pop di era modern, Dior selalu tahu cara mendikte dan mendefinisikan apa yang disebut dengan “gaya”.

Memiliki atau mengenakan koleksi Dior bukan sekadar urusan memakai produk bermerek, melainkan tentang mengenakan sepotong sejarah dari mahakarya seni tertinggi Paris. Jadi, dari deretan koleksi ikonik di atas, mana yang paling membuatmu jatuh cinta?

Mengguncang Dunia dengan Kesederhanaan: Kisah Calvin Klein dan Sihir Minimalis yang Mendunia

Kisah Calvin Klein – Bayangkan sebuah panggung mode pada era 1970-an atau 1980-an. Di saat desainer lain berlomba-lomba membuat gaun megah dengan rumbai-rumbai heboh, bantalan bahu raksasa, dan warna-warni neon yang menusuk mata, seorang pria dari Bronx, New York, maju ke depan dengan konsep yang sangat berani: sepotong celana jins biru yang polos dan pakaian dalam berlogo karet.

Pria itu adalah Calvin Klein.

Dengan modal nekat dan visi yang tajam, ia berhasil mengubah cara pandang dunia terhadap pakaian. Di tangan Calvin Klein, hal yang “biasa saja” diubah menjadi sesuatu yang sangat seksi, elegan, dan dicari oleh jutaan orang di seluruh planet bumi. Calvin Klein bukan sekadar sebuah merek fesyen; ia adalah pelopor dari gerakan minimalisme modern yang mengubah budaya populer selamanya.

Bagaimana sebuah brand yang mengagungkan kesederhanaan bisa bertransformasi menjadi imperium global yang bernilai miliaran dolar? Mari kita bedah kisah seru di balik pesona minimalis Calvin Klein!

1. Awal Mula Sang Pemberontak dari Bronx

Kisah Calvin Klein (CK) dimulai pada tahun 1968. Calvin Klein, bersama teman masa kecilnya, Barry Schwartz, mendirikan sebuah perusahaan mantel kecil di New York. Keberuntungan pertama mereka datang seperti adegan di film-film komedi romantis: seorang pembeli dari toko ritel mewah Bonwit Teller salah turun lantai di sebuah gedung, tidak sengaja melihat mantel buatan Calvin Klein, dan langsung memesan senilai $50.000!

Sejak saat itu, nama Calvin Klein langsung meroket. Namun, ia tidak mau hanya dikenal sebagai pembuat mantel. Calvin ingin menciptakan pakaian yang mencerminkan esensi masyarakat urban Amerika yang praktis, dinamis, tetapi tetap terlihat sangat berkelas.

Filosofi Desain CK:

“Saya menyukai garis yang bersih, warna yang netral, dan bentuk yang fungsional. Pakaian seharusnya menonjolkan kepribadian orang yang memakainya, bukan malah menenggelamkannya.” – Calvin Klein.

2. Jins dan Pakaian Dalam: Mengubah Komoditas Menjadi Objek Hasrat

Sebelum era 1970-an, celana jins hanyalah pakaian pekerja kasar atau pakaian santai untuk berkebun di akhir pekan. Pakaian dalam (underwear) juga sama; itu hanyalah selembar kain putih yang disembunyikan di balik celana panjang, tidak ada yang peduli dengan estetika atau mereknya.

Di sinilah letak kegeniusan Calvin Klein. Ia melakukan revolusi total terhadap dua barang sehari-hari ini:

Era Designer Jeans (1970-an)

Calvin Klein memotong jins dengan ukuran yang pas di tubuh (tight-fitting), memberikan sentuhan sensual, dan menempatkan namanya dengan bangga di saku belakang. Jins CK langsung menjadi simbol status sosial anak muda. Pada tahun 1980, iklan legendaris yang dibintangi oleh Brooke Shields yang berusia 15 tahun mengguncang dunia dengan kalimat: “You want to know what comes between me and my Calvins? Nothing.” Iklan ini memicu kontroversi global, tetapi hasilnya? Celana jins CK terjual jutaan potong dalam waktu singkat!

Revolusi Pakaian Dalam (1980-an)

Calvin Klein meluncurkan lini Calvin Klein Underwear pada tahun 1982. Ia menambahkan ban pinggang karet tebal bertuliskan nama “Calvin Klein” yang ikonik. Melalui kampanye foto hitam-putih yang menampilkan tubuh atletis para model papan atas, Calvin Klein berhasil mengubah pakaian dalam dari sekadar kebutuhan fungsional menjadi sebuah barang fesyen mewah yang wajib dipamerkan secara sengaja di atas garis celana jins.

Anatomi Kekuatan Brand Calvin Klein

Lini Produk Karakteristik Utama Dampak Budaya
Calvin Klein Jeans Potongan ketat, minimalis, denim berkualitas Mengubah jins pekerja menjadi fesyen kelas atas (high fashion).
CK Underwear Ban pinggang berlogo, siluet bersih, bahan katun premium Menciptakan tren memamerkan ban pinggang celana dalam (sagging).
Parfum (CK One) Aroma segar, botol berbentuk botol minum kaca, unisex Mendobrak batasan gender di industri wewangian global.
Ready-to-Wear Warna monokrom (hitam, putih, abu-abu), tanpa ornamen berlebih Menjadi standar utama gaya berpakaian casual-chic kaum urban.

3. CK One: Mendobrak Batasan Gender Melalui Aroma

Memasuki era 1990-an, Calvin Klein kembali membuat gebrakan yang mengubah peta industri wewangian dunia dengan meluncurkan CK One pada tahun 1994.

Sebelum CK One lahir, industri parfum sangat kaku: parfum wanita beraroma bunga yang sangat manis, sementara parfum pria beraroma kayu yang sangat maskulin. Calvin Klein menghancurkan tembok pembatas tersebut dengan menciptakan parfum unisex (bisa dipakai pria maupun wanita) pertama yang sukses secara komersial di dunia.

Aroma CK One yang segar, beraroma sitrus, dan bersih sangat cocok dengan estetika grunge anak muda tahun 90-an. Ditambah lagi dengan kemasannya yang sangat minimalis—hanya botol kaca buram tanpa hiasan rumit—CK One terjual hingga 20 botol per menit di puncak popularitasnya. Ini adalah bukti nyata bahwa minimalis bukan hanya soal potongan kain, melainkan sebuah gaya hidup.

4. Strategi Pemasaran Kontroversial yang Genius

Satu hal yang tidak boleh dilewatkan saat membahas Calvin Klein adalah cara mereka beriklan. Mengapa iklan CK selalu berhasil menarik perhatian? Karena mereka tidak pernah sekadar menjual produk; mereka menjual fantasi, kemudaan, dan sensualitas.

Dari kampanye hitam-putih karya fotografer legendaris Bruce Weber hingga era modern bersama bintang-bintang global, Calvin Klein selalu tahu siapa yang memegang kendali budaya populer.

Di era modern, strategi ini diteruskan dengan kampanye bertajuk #MyCalvins. Mereka menggandeng ikon-ikon pop kultur terbesar mulai dari Justin Bieber, Kendall Jenner, Shawn Mendes, hingga megabintang K-Pop seperti Jungkook dari BTS dan Jennie dari Blackpink. Ketika foto-foto mereka yang menggunakan pakaian dalam atau jins minimalis CK dirilis, internet langsung gempar. Jutaan anak muda di seluruh dunia berlomba-lomba membeli produk yang sama agar bisa mengunggah foto dengan tagar #MyCalvins di media sosial mereka.

“Minimalis bukanlah tentang menghilangkan segalanya sampai menjadi membosankan. Minimalis adalah tentang menyisakan hal-hal yang paling esensial, sehingga keindahan yang murni bisa memancarkan pesonanya sendiri.”

5. Mengapa Estetika Minimalis CK Tetap Relevan Hingga Hari Ini?

Tren fesyen datang dan pergi secepat kilat. Kita telah melihat tren streetwear yang penuh logo besar, tren warna tabrak lari, hingga tren baju kedodoran. Namun, mengapa Calvin Klein tetap berdiri tegak di tengah gempuran tren yang berubah-ubah?

Jawabannya adalah karena kenyamanan dan fungsionalitas. Fesyen minimalis yang diusung oleh CK menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh tren musiman: keabadian (timelessness). Pakaian dalam katun hitam dengan logo CK, kaus putih polos yang pas di badan, atau celana jins potongan lurus (straight cut) akan selalu terlihat keren, baik digunakan dua puluh tahun yang lalu, hari ini, maupun sepuluh tahun ke depan.

Di tengah dunia modern yang semakin sibuk dan penuh dengan gangguan visual (visual clutter), kembali ke sesuatu yang simpel dan bersih terasa seperti sebuah kelegaan. Memakai Calvin Klein memberikan pesan tersirat: “Saya tidak perlu berteriak lewat pakaian yang heboh untuk menarik perhatian Anda.”

Kesimpulan: Warisan Abadi Sang Maestro Kesederhanaan

Meskipun Calvin Klein sang pendiri telah pensiun dan menjual perusahaannya kepada korporasi PVH Corp, cetak biru (blueprint) desain yang ia tinggalkan tidak pernah berubah.

Calvin Klein telah membuktikan kepada dunia bahwa kemewahan tidak harus selalu diukur dari seberapa banyak payet berkilau di gaun Anda, atau seberapa rumit pola pakaian Anda. Terkadang, kemewahan sejati justru lahir dari kesederhanaan yang dieksekusi dengan sangat sempurna.

Dari sebuah toko mantel kecil di New York hingga menjadi logo yang melingkari pinggang jutaan orang di seluruh dunia, Calvin Klein adalah raja dari gaya minimalis yang akan terus mendominasi dunia mode hingga masa-masa yang akan datang. Jadi, sudahkah kamu memakai “Calvins”-mu hari ini?